Posted by: abu salman | March 19, 2010

Umar Rodhiyallohuanhu Ditegur Wanita Soal Mahar

Kisahnya

Dari Sya’bi berkata: “Suatu kali Umar Rodhiyallohuanhu pernah berkhotbah, beliau memuji Alloh dan menyanjungNya, lalu berkata : “janganlah kalian mempermahal mahar wanita, sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rosululloh sholallahu alaihi wasalam pastilah aku ambil kelebihannya untuk baitul mal” kemudian beliau turun (dari mimbar)”

Selepas khotbah, ada seorang wanita Quraisy yang memprotesnya seraya berkata: “Wahai Amirul mu’minin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Alloh ataukah ucapanmu? Umar Rodhiyallohuanhu menjawab: Pasti Kitabulloh, memangnya kenapa? Wanita tadi berkata : Tadi engkau melarang orang-orang mempermahal mahar wanita padahal Alloh berfirman : Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain , sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ? (QS : an-Nisa’ [4]:20)

Maka Umar berkata:”Semua orang lebih pintar dari pada Umar” beliau mengucapkannya dua atau tiga kali, kemudian kembali naik mimbar lalu berkata :“Dahulu saya pernah melarang kalian mempermahal mahar wanita, sekarang silahkan masing-masing berbuat terhadap hartanya sesuka hatinya.”

Derajat Kisah

Kisah ini Lemah

Takhrij Kisah

Kisah yang sangat masyhur di kalangan kaum muslimin ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam sunan beliau : 7/233, Abdurrozzaq dalam al-Mushonnaf no.10420, dan Sa’id bin Manshur no. 597.

Imam al-Baihaqi meriwayatkannya dari jalan Sa’id bin Manshur, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hasyim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Mujalid dari Sya’bi, ia berkata:….. (sebagaimana kisah di atas)

Sedangkan Abdurrozzaq meriwayatkan kisah ini dari jalan Qois bin Robi’ dari Abu Hushoin dari Abu Abdirrohman as-Sulami, dia berkata:….(sebagaimana kisah di atas)

Sisi Kelemahan Kisah

Sisi kelemahan kisah ini dapat ditinjau dari dua sisi:

Pertama : sisi sanad

Kisah ini diriwayatkan dari dua jalan: jalan Sa’id dan al-Baihaqi dan Abdurrozaq. Jalan yang pertama memiliki dua cacat:

  1. Munqothi’ (terputus) antara Sya’bi dengan Umar, karena Sya’bi tidak bertemu dengan Umar.
  2. Pada sanadnya terdapat Mujalid bin Sa’id, seorang yang lemah.

Sedangkan jalan yang kedua (jalan Abdurrozaq) pun terdapat dua cacat, yaitu:

  1. Munqothi’ (terputus) pula, karena Abu Abdirrahman as-Sulami tidak mendengar dari Umar, sebagaimana yang dikatakan oleh Yahya bin Ma’in.
  2. Pada sanadnya terdapat Qois bin Robi’, orang yang lemah hafalannya. (Lihat Irwa’ul-Gholil no. 1927)

Kedua : sisi matan

Dari sisi matan, pada kisah ini terdapat beberapa hal yang terasa ganjil yang menyebabkan kisah ini menjadi lemah dan munkar.

  1. Kisah ini bertentangan dengan sebuah atsar yang shohih dari Umar, bahwa beliau berkata: “ketahuilah, janganlah kalian mempermahal mahar wanita, karena hal itu seandainya merupakan sebuah kemuliandi dunia atau ketaqwaan di sisi Alloh maka niscaya yang paling berhak melakukannya adalah Rosululloh sholallahu alaihi wasalam, padahal beliau tidak memberikan mahar kepada istrinya juga tidak menetapkan mahar untuk istri-istri beliau melebihi dua belas uqiyah” (HR. Abu Dawud: 2106, an-Nasa’i: 2/87, at-Tirmidzi: 1/208 dan dishohihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, lihat al-Irwa’: 1927)

Dalam atsar ini, Umar memang telah melarang manusia mempermahal mahar karena larangan ini sesuai dengan sunnah Rosululloh sholallahu alaihi wasalam yang tidak mempermahal mahar istri dan putri beliau.

  1. Dan anggaplah bahwa kisah di atas (Umar yang diprotes oleh seorang wanita) adalah shohih, maka hal ini tidak bertentangan dengan ayat 20 dari surat an-Nisa’, dikarenakan dua hal.

Pertama: bisa saja dikatakan bahwa larangan Umar tersebut bukan bermakna haram melainkan hanya makruh.

Kedua: Ayat tersebut berkaitan dengan seseorang yang ingin menceraikan istrinya sedangkan dia telah memberikan kepada sang istri harta benda yang banyak, maka tidak boleh bagi suami untuk mengambil kembali tanpa kerelaan istrinya.

Majalah al Furqon Edisi 01 tahun kedelapan Sya’ban 1429 hlm 52-53


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: